Tampilkan postingan dengan label The CoffeeShop. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The CoffeeShop. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 September 2012

Dear September

I wishing you . .

Read More...

Senin, 13 Agustus 2012

Lirik ku

Rupannya masih tertinggal sebuah gitar milik teman di bangku sofa rumah. Pagi ini aku bangun tidur dan kulihat gitar ini masih bersandar. Menunggu seseorang memainkan lantunan nada-nada. Aku tidak bisa memainkan sebuah gitar. Thats a fact. Ingin belajar tapi susah sekali untuk memahami kunci nya.
Tidak di pagi ini. Jemari tanganku mulai menyentuhnya dan perlahan aku mainkan dengan lembutnya hingga nada-nada terdengar dari petikan di gitar ini. Kuikuti irama hatiku dan kupetik gitar ini. Aku bernyanyi. Tak terasa menjadi sebuah lirik lagu.
First . .ALONE. As i am feel alone today

Alone
i feel today
without you, faraway
im in confuse with everything
with the truth about whats i feeling
i need you to be by my side 2x
to understand this is all
i was alone
alone
im so alone
oh baby dont go far from me
cause i realize with you
i can feel im not alone anymore
i need you to be by my side 2x
to understand this is all
i was alone
alone
im so alone

The Second . . Say Hello To The World
 ummmmm.. wait ^^


Read More...

Jumat, 10 Agustus 2012

We All Have Our Scars

Lagu ini keren banget. Terus-terus aku puter beberapa hari-hari ini. I just dont wanna get hurt again !!
Read More...

Sabtu, 04 Agustus 2012

Demi Allah

Jika dulu aku  . .
demi kamu begitu mencintaimu
demi kamu aku menutup untuk pria lain
demi kamu aku menjauh dari sekitarku
demi kamu aku meninggalkan mimpi-mimpiku
demi kamu aku bersabar dan,
demi kamu aku rela menunggu
hingga . .
aku yang tersakiti
demi Allah
kini kuikhlaskan hidup ku untuk dunia dan akhirat
lillahi ta'ala
demi Allah ibadahku
amin
Read More...

Kamis, 02 Agustus 2012

Panggil Aku Mona (A short Story)

 Teddy duduk termenung. Malam ini jalanan sepi. Udara begitu dingin. Tak banyak yang bekeliaran di trotoar. Itu pun mereka semua sesama waria yang sedang menantikan para langganan mereka.

Sebetulnya ada sedikit rasa penyesalan dalam diri Teddy. Dua tahun yang lalu, ia telah membuat kesalahan. Seandainya waktu itu ia lebih mendengarkan orang-orang yang menyayangi dirinya ketimbang perasaan sesaatnya, mungkin nasibnya tidak akan seburuk ini.

“Ingat kodratmu, Ted, Tuhan tidak pernah menciptakan umatnya dengan tiga jenis kelamin. Cuma dua. Laki-laki dan perempuan…” Teddy menutup telinganya rapat-rapat. Mama, Papa, mas Raieth, bahkan teman-teman dikampus terus menasihatinya.

“Aku nggak bisa, menghindar dari keadaan ini, Meskipun semua nggak suka dengan keputusan ini, aku tetap memilihnya!”

Teddy pergi dari rumah. Dia tidak kuat lagi dengan orang-orang disekelilingnya. Tidak ada satupun yang bersedia menerima kenyataan bahwajiwa yang dia miliki bukan seorang lelaki seperti fisiknya, tapi seorang wanita. Kini hanya dengan bermodal itulah ia menyambung hidupnya pada malam hari. Dengan merubah namanya menjadi Mona. Semenjak saat itu, Teddy seakan telah menemukan dirinya. Jiwanya. Jiwa yang selama ini tertutup jauh. Hingga kini terbebas dalam dunia yang ia harapkan.

Mona yang lugu dan cantik. yang tiap kali mangkal di perempatan lalu lintas jalanan. Banyak pelanggan yang suka dengannya. Hampir tiap hari dia tidak pernah mendapatkan pelanggan. Beruntung nasibnya sebagai seorang waria jalanan saat itu. Dengan banyaknya kasus yang semakin menjelaskan betapa suramnya dunia jalanan.

“Mona……………..cepet lari!! Ada razia!”
Sissy, banci paling populer dikalangan itu, lari kencang diikuti Mona. Pantas saja hari ini tidak satupun dari langganan mereka yang datang. Sepertinya mereka tahu kalau malam ini para polisi mengadakan razia, menyidak para waria yang tengah mengais rejeki.

Malam itu, beruntung Mona bisa melarikan diri dari razia. Sedangkan malang bagi Sissy yang telah tertangkap. Mona bersembunyi dibawah kolong jembatan. Gelap, sunyi, bau, kotor. Yang ada hanyalah gubuk-gubuk kusang dan didalamnya ada kehidupan. Sebuah kehidupan yang terdiam dan hanya bernafas setelah mencari rejeki untuk bisa mengisi perut.

Sambil berdiri menyaksikan kehidupan sekitar yang seperti itu. Dalam hatinya ia berkata: “Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan selama ini. Hingga aku bisa berada ditempat ini.” Munkin memang benar bahwa dia tidak bisa melepaskan sosoknya saat ini. Sebagai Mona. Karena begitulah dia. Jiwa nya yang mengatakan. Tapi apakah dia terus berlari dan berlari dari kejaran razia. Jenuh dan bosan. Tidak adakah jalan lain yang mesti dia perbuat. hingga dia bida bernafas menikmati hidupnya dengan lega.

Dia berlari-berlari terus hingga. “Hi Mona, apa kabar?”
Sebuah wanita cantik menyapanya dan mempersilahkan untuk duduk disebuah Cafe. “Jadi bisa kan Mon, kamu mengurusi acara pernikahan ku.”

Kini sosok Mona adalah perancang acara pernikahan yang sudah cukup dikenal disuatu kota. Bukan lagi Mona si bencong jalanan yang selalu mangkal di lampu lalulintas trotoar. Sosok Teddy yang dulu hanyalah tinggal kenangan. Kini yang ada hanya Mona.

P.s: Sekedar cerita dan mencoba untuk menulis meski banyak salah sana sini. Semoga terhibur^^

Sukses, Sekarang juga !!


Read More...

Hantu Sisir (A short story)


Suatu hari ada dua orang sahabat, Lola dan Cindy yang sedang asiknya untuk makan disebuah kantin disekolah SD. Hari itu hari senin dan harusnya hari yang bikin mereka semangat meski datang kesekolah tadi pagi telat dan terpaksa kena hukuman setelah upacara selesai.

Saat jam istirahat itu, seperti biasa mereka habiskan dengan menyantap makanan dari rumah. Buatan mami tersayang tentunya. Kadang, biar tidak jenuh, mereka saling menukar makanan itu. Kecuali untuk sebuah puding. Mhmnnn gak bakal. Meski hanya untuk mencobanya. Hanya Lola atau sebaliknya Cindy ketika mereka main ke rumah masing-masing saja, mereka baru merasakan bagaimana lezatnya puding masing-masing buatan Lola atau Cindy.

Rutinitas yang rutin yang mereka lakukan setelah makan adalah kekamar mandi, meski hanya untuk cuci tangan dan hanya sekedar mengaca dan bukan untuk buang air kecil atau yang lain. Siang itu, hampir semua siswi kekamar mandi dan mereka harus mengantri lama. Bukan secara kebetulan lagi, siang itu Cindy dan Lola kekamar mandi dengan tujuan yang jelas. Alias untuk keperluan BAB (Buang Air Besar). “Adugh, kenapa perut ku ini. Mama tadi ngasih bumbu baru mungkin sampe perut ku mules. Adugh. Gak tahan. Cin, aku ke toilet dulu” seru Lola kesahabatnya Cindy. “Lho Lol tunggu in. Perut ku juga mules nigh. Mama ku tadi ngasih saus merek baru tadi. Adugh. Egh kamar mandi penuh nih Cin! Gimana donk?!” kata Cindy pada Lola.

“Sebaiknya kita cari alternatif jalan lain. Sepertinya kita harus terpaksa ke kamar mandi pojok belakang” kata Lola. “Gila kamu itu kamar mandi itu khan udagh lama nggak kepakai” kata Cindy. Cindy melanjutkan”Yang penting khan kita bisa BAB. Ada airnya juga,khan. Nagh lhoh. Buruan.”
Mereka akhirnya segera lari menuju kamar mandi yang terletak lumayan jauh dari kamar mandi dekat kantin. Kamar mandi pojok belakang yang bersebelahan dengan gudang yang menyimpan kursi, bangku sekolah yang sudah lama tidak terpakai. Kotor an angker. Tapi mereka sepertinya tidak menyadari.

Untung pintu kamar mandi itu kebuka. Sehingga mereka bisa langsung masuk saja dan segera BAB. “Ugh, akhirnya bisa juga. Lega rasanya. Gimana keadaan kamu Cin?” kata lola sambil BAB. “mhmnn…. Betul kamu Cin.. Manteb. Untung tadi nggak jadi kebelet di jalan,y?! Kamu mank ok Lol. Manteb” kata Cindy. “Iya. Kamu siegh. Coba kamu tadi tetep ngantri atau aku ndengerin omelanmu yang tanpa alasan itu. Wuiiigh. Mana tahan. Bisa-bisa boker dijalan,neng” balas Lola. wkwkkwkwkwk sambil ketawa-ketiwi bebas mereka seperti tidak ada penhuni lain selain mereka.

Setelah duo centil itu puas melakukan BAB dan mereka cuci tangan. Tiba-tiba. “Egh Lol, ngomong-ngomong, omongan ku yang kata kamu tanpa alasan itu, kamu salah neng! Dulu itu ada cerita di toilet itu ada seorang cewek. Eks siswi sini juga. Cantik. Cantik banget degh pokoknya. Karena cantiknya itu dia selalu bawa sisir, dll. Biasalah cewek. Terus tiba-tiba si siswi cantik ini kepleset dikamar mandi ini. Meninggal dengan posisi sedang membawa sisir. Makanya dinamakan Hantu Sisir” kata Cindy. “Heh, ngaco. Mana mungkin ada! kata Lola menegaskan. Kemudian Lola melanjutkan: “Aghhh kamyu bo’ong!.” (Sambil bencanda, meski tampang Cindy sudah mencoba serius).

(Adegan: Siswi eks pas lagi ngaca di toilet ini. Setelah BAB. Eks siswi cantik ini tiba-tiba jatuh kepleset dikamar mandi pada saat mengaca dan sisir. Langsung Meninggal dengan tangan tetap membawa sisir. Karena masih mudah dan pingin sisiran terus, akhirnya arwahnya gentayangan terus disekitar kamar mandi itu. Kata Eks siswi alias hantu sisir: “Lho kok. Lho kok (bacanya L H O K O K). Aku bisa tiba-tiba mati jatuh kepleset dikamar mandi!.” Lanjut si malaikat pencabut nyawa: “ Iya soalnya si Cindy yang bercerita. Jadi ini cerita versus Cindy. Coba orang lain. Pasti beda,khan!” “Iya degh gapapa. Asal aku bisa tenar jadi tokoh utama dan tenar dicerita ini.kekekekeke” kata hantu sisir)

Kemudian dengarlah suara berisik seperti suara gemerinding. Padahal itu adalah ulah Dude. Salah satu teman sekaligus musuh Cindy dan Lola tentunya di sekolah. Berantem mulu. Dude secara tidak sengaja mencari mereka dan kakinya menatap serakan bangku usang yang ada didepan kamar mandi. Sehingga bangku-bangku itu jatuh semua. “Adugh Lol suara apa itu. jangan-jangan beneran degh ada hantu sisir!” kata Cindy. “Eh. Mungkin. Agh udagh degh. Ngaco. Paling juga apa gitu. Tapi aku kok merinding y..!” kata Lola.

Pintu terbuka dan “aaaaaaaaaaaaaaaaaagh. Ampun-ampun!” kata Dude berteriak. “Ini aku dude dudul!” lanjut Dude sambil memasang muka kesal sekaligus marah. “Wadugh kamu. Dasar. Mau cari perkara, y?! Sengaja nakutin kita?! Ngapain juga kekamar mandi cewek. Sukurin!” kata Cindy. “Aku cuma nyali kalian tahu! Ini sudah jam masuk kelas dan Ibu Wendi yang nyuluh aku. Jadi jangan pada GL! Lagian sebagai ketua kelas yang telpelcaya, gak salah donk. Klo aku nyali kalian. Tukang onal!” kata Dude sambil mengejek Cindy dan Lola.

Dengan muka rada kesal sekaligus senang setelah menggosok-nggosok muka Dude dengan ujung sapu lantai, akhirnya Lola dan Cindy pergi meninggalkan kamar mandi itu dan membiarkan Dude entah sedang melakukan apa. “Egh, Cin kamu nggak kasihan ma Dude. Dia khan belum tahu kalau di kamar mandi itu ada hantu sisir yang sedang gentayangan” kata Lola. “Iya Lol, kita harus memberantas hantu sisir yang sudah mengusik sekolah ini terutama pikiran ku dan bukan karena alasan menyelamatkan Dude nakal itu!” lanjut Cindy.

Akhirnya Lola dan Cindy memberanikan diri untuk melihat sosok hantu sisir sebenarnya dan “berniat mengusirnya”. Sementara itu didalam kamar mandi itu, setelah dia buang air kecil ternyata keran yang ada dikamar mandi itu tiba-tiba macet. Sehingga didorong-dorong dia dengan sepatu dan kerannya jadi amburadul. Nyemprot sana. nyemprot sini. Basah dan membasahi seluruh badan Dude. “Adugh. Ampun-ampun!. Kapan kamu belhenti. Tolong-tolong. Basah semua. Iya. Jangan ganggu aku. Klo kamu bisa belhenti, aku akan membersihkan kamar mandi ini! seru Dude didalam kamar mandi.

Secara tak sengaja Cindy dan Lola mendengarkan keributan itu dan mereka mengira itu adalah ulah hantu sisir. “Wadugh, Cin. Dude dalam keadaaan bahaya. Kayaknya memang benar cerita kamu. Kita harus segera menyelamatkan Dude. Bagaimana Cin, kita menyelamatkan dia?!” kata Lola. “Mhgmmmmnn” Cindy sambil berpikir serius. “Lariiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii……!”lanjutnya. Sambil menarik baju Cindy, Lola berkata: “Serius dunk, Cin. katanya mau mengusir hantu sisir. Ayo kita usir dia. Tapi kamu yang didepan,y?!” kata Lola, sambil mencoba mencari pembenaran.

Lagi, tapi kali ini agak berbeda. Akhirnya Cindy dan Lola masuk kedalam kamar mandi dan memukul Dude dengan tampang kusutnya sambil marah-marah. “uegh,,,egh,,aghh..dugh…,euhjgkadhdnha.. agh” situasi dikamar mandi itu. “Apa-apa an sih kamu Cin! Lola juga! kurang kerjaan, y kalian. “Egh, tidak ada y… hantu sisirnya. Eh ini Dude,y….?!” kata Cindy sambil mencubit-cubit pipi Dude yang kusut itu. “Iya kamu harus bersyukur kita itu. Mau menyelamatkan kamu dari hantu sisir dan sekaligus mengusirnya dari sekolah ini, terutama dari benak Cindy” kata Lola. “Heh. Hantu sisil?! Gak salah dengal tugh?! Hahahahhah Dapet celita dali mana itu?! Boong banget!! wkwkwkkwwwk” kata Dude sambil ketawa-ketiwi dan lupa akan rasa sakitnya setelah dia dikeroyok Cindy dan Lola. “Hai ada apa ini ribut-ribut. kalian mencari aku?!” dengan muka sok tidak bersalah hantu sisir akhirnya memunculkan diri. “Laaaaaaaaaaaaaaaaaariiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii” teriakan versus CIndy dan Lola.
Sementara itu, "Laaaaaaaaaaaaaaaaaaliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii” teriakan versus Dude. (Heh, Appa bedanya?!!! Apa hayooo?!)

Sekian-Naikes.

P.s: Sekedar cerita dan mencoba untuk menulis meski banyak salah sana sini. Semoga terhibur^^

Sukses, Sekarang juga !!
Read More...

Rabu, 01 Agustus 2012

Lentera Padam (A Piece of Novel)


Disebuah sudut kota itu aku menunggu. Menunggu sebuah pesan yang sudah lama telah kunantikan. Sepucuk surat dari Ellyn. Kekasih sekaligus sahabat ku. 

Sudah hampir tujuh tahun setelah peristiwa kebakaran itu. Kami tidak pernah bertemu lagi. Ketika kami mulai menjalin asmara diantara banyak nya tembok yang membentang diantara hubungan kami. Tembok itulah yang memisahkan kami. Hingga pukul 11 malam sekarang dan aku tetap menunggu. Meskipun aku tahu bahwa ini sudah kelewat jam normal dan pak pos pun tak mungkin datang juga. Tapi aku yakin bahwa surat itu akan datang jua membawa goresan pena terakhir bersama kekasih ku Ellyn. Sebuah angin segar dan aku yakin akan tiba saat nya. Setiap hari perayaan Imlek dan dibawah lentera ini aku akan terus menunggu Ellyn.

Kring-kring….. Aku kaget dan kusangka yang datang itu adalah pak pos. Ternyata hanya seorang penjual sayur yang hendak menyuruhku beranjak dari situ karena pasar akan mulai digelar. Tak mungkin juga Pak pos berkeliling malam-malam begini. Lamunan ku bubar. Aku harus menyadari bahwa pagi sebentar lagi mulai datang dan aku harus kembali ke rumah jahit.

Sebagai anak dari hanya seorang tukang jahit asongan aku menyadari hidup keluarga ku serba kesulitan. Aku hanya seorang anak yatim yang hingga saat ini aku harus membantu ibu ku menjahit demi menafkai hidup kami. Bersama seorang adik perempuan. Ibuku pandai menjahit. Keahlian itu didapat dari ibuku dari semasa mudanya dia pernah mengikuti sekolah menjahit. Bagus sekali jahitannya. Tapi sayang, hanya karena penampilan kami kusam dan miskin, kadang seenaknya saja mereka membayar jahitan ibuku. Ingin kumaki, tapi apa daya. Kami hanya manusia kecil. Sementara ibu ku sendiri hanya pasrah dengan keadaan setelah kepergian ayah ku. Sudah sebelas tahun semenjak ayahku meninggal. Semuanya berubah. Aku hidup dengan benang-benang ini. Namun, kami sendiri, tidak memiliki benang-benang itu.

“Han, tolong antarkan dua setel pakaian ini ke alamat Ny. Liana. Pelanggan baru kita. Katakan padanya untuk tidak segan-segan pesan jahitan lagi pada ibu.” Pesan ibuku.

Ketika aku akhirnya menemukan alamatnya, aku sapa penghuni rumah itu. Tak sengaja yang keluar dari pintu rumah besar itu adalah seorang gadis. Cantik sekali. Baru pertama aku melihatnya. Mengenakan kain sutra merah dan sepatu yang sangat cantik pula. Secantik gadis itu. Sesuai pesan ibu, ku kasihkan jahitannya dan dia memberiku uang. Sangat baik Ny. Liana ini rupanya hingga dia memperkenalkan aku dengan gadis itu. Anak semata wayangnya, Ellyn.

“Jadi, Handoko namamu! Datanglah kau sejenak jika ada waktu untuk menemani Ellyn jalan-jalan disekitar sini. Kebetulan kami baru saja pindah dari Bogor. Keberatankah kau?” Tanya Ny. Liana kepada ku. Tentu saja aku senang sekali dan ku jawab: “Dengan senang hati Ny. Liana, tapi setelah saya membantu ibu saya. Mungkin sore saya baru bisa.” Lanjut Ny. Liana: “Terserah Han, mau datang kapan saja. Pintu rumah kami selalu terbuka untuk Han.”

Dalam perjalanan pulang, aku merasa senang sekali. Tidak menyangka akan ada orang dari kalangan atas seperti keluarga Ny. Liana yang mau menyambut dengan baik aku anak pribumi. Tentunya dengan sangat senang aku akan kerumahnya dan berteman dengan Ellyn.
Hingga esok harinya, disaat aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan ku hari itu. Seperti janjiku sore itu aku datang ke rumah Ny. Liana untuk menemui Ellyn. Sore itu kuajak dia ketempat alun-alun dengan banyaknya pedagang asongan yang jualan disitu. Banyak jajanan enak termasuk gula-gula yang ternyata disukai Ellyn. Aku hanya bisa membelikan sebuah gula-gula merah untuk Ellyn. Itupun hasil pemberian ibuku karena hari ini lumayan banyak hasil jahitan ibuku.

Sudah petang rupanya dan aku antar Ellyn untuk segera pulang ke rumahnya. Tentunya besok kami akan berjumpa lagi dan aku sudah menentukan akan kuajak kemana dia. Sesampai dirumah rupanya ibuku sedang ada tamu. Dan tak kusangka tamu itu adalah Pak Ismail. Setiap hari Senin sebelum kami melunasi semua hutang kepadanya dia akan datang terus ke rumah kami. Menagih hutangnya. Setahun yang lalu ibuku terpaksa memimjam uang padanya untuk membeli mesin jahit dan itupun adalah mesin jahit rongsokan yang hanya mesinnya saja yang dapat berjalan dan secara sedikit demi sedikit aku memperbaikinya.

Malam itu, ibuku bisa membayar tagihan. Bisa melewati sehari dari cacian Pak Ismail. Entah sampai kapan. Aku pun tidak pernah berani untuk menjawab hal ini. Karena beginilah kondisi kami sekarang dan aku hanya bisa berdoa dan membantu ibuku.

Pagi hari ini telah datang rupannya, aku masih teringat dengan Ellyn. Semuannya masih tampak jelas. Cantik, baik, dan dia tahu menempatkan dirinya sebagai seorang gadis. Dan yang membuat bahwa aku berani hingga saat ini untuk berjalan dengan nya adalah sikap dia. Dengan tegasnya dia mengatakan bahwa tidak ada perbedaan diantara kita. Dan masih kuingat terakhir saat kuantarkan dia pulang adalah dia senang sekali berteman dengan ku. Hal itulah yang membuat ku hingga saat ini bangga untuk bersahabat dengan dia. Aku hanya bisa berharap bahwa hubungan persahabatan ini akan terus berjalan. Meski aku sadar bahwa hal ini tidak berjalan lama.

Seperti biasa dipagi itu, aku harus mengantarkan adik ku ke sekolah. Lumayan jauh sekitar 2 kilometer dari rumah kami. Maklumlah ibuku hanya dapat menyekolahkan adik ku ke sekolah yang amat sederhana. Meski jarak lumayan jauh dari rumah kami. Dan aku merelakan diriku untuk tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan. Hanya demi adik ku. Biarlah bagiku. Dengan nasib dan kondisi kami saat ini. Aku lebih mementingkan pendidikan adik ku dan akan lebih baik begitu. Disamping aku harus membantu ibuku menjahit. Sambil ku kayuh sepeda ini dan setelahnya aku mesti mengantarkan ibuku untuk membeli benang dan kain buat menjahit. Sebuah sepeda yang sudah menemani hari-hari ku selama tiga tahun ini.

Usia ku 17 tahun saat itu dan Ellyn 15 tahun. Namun, perasaan yang tumbuh secara dewasa mulai ada diantara kali. Sore hari pun tiba dan aku beranjak untuk berangkat ke rumah Ellyn. Sepertinya dia sudah siap didepan rumahnya untuk menunggu kedatangan ku dan menunggu petualangan apalagi yang akan aku lakukan dengannya. Sesuai rencana ku tadi pagi. Aku mengajaknya untuk menyusuri kota Surabaya dengan jalan-jalan di sepanjang jembatan merah.

Sore itu adalah saat yang sangat tepat karena ada festival kembang api yang sangat meriah. Meramaikan suasana sekitar jembatan merah. Tak kerasa akhirnya ayunan sepeda ku berhenti di tepi jembatan merah. Kami menghabiskan waktu sepanjang sore itu disana dan membicarakan berbagai petualangan serta imajinasi kami. Hingga secara tak sengaja surya yang mulai tenggelam itu menyinari wajahnya yang cantik itu, Ellyn. Aku tidak menginginkan hal ini terjadi. Perasaan yang lebih dari sekedar sahabat dan sudah cukup bagiku hanya dengan status itu. Hingga persahabatan kami terus berlangsung selama hampir dua tahun dengan perasaan yang hanya bagiku seorang sahabat saja.

Tembok pemisah antara kita terlalu jauh dan sudah cukup jelas dimulai dari lingkungan sekitar kami. Bahkan meski kita hanya berteman, sudah banyak gonjang-ganjing yang membicarakan persahabatan kita. Dari sepupu Ellyn sendiri misalnya ketika singgah ke rumah nya dan ketika aku seperti biasa menjemputnya untuk mengajaknya jalan-jalan. Sindiran yang langsung jelas ditujukan ke aku adalah bahwa aku manusia rendahan yang tidak pantas untuk bergaul dengan kaumnya. Mungkin perasaan marah dan kesal ada waktu itu, tapi aku benar-benar menyadari posisiku dan siapa aku. Hanya seorang bocah pribumi dan sebagai anak dari tukang jahit. Hinga Ellyn memegang tangan ku dengan sangat kuat dan memberi isyarat untuk beranjak dari rumahnya.

Namun, perasaan itu begitu kuat dan bergejolak dihatiku. Hingga muncul sebuah pertanyan apakah selama ini aku benar-benar pantas berjalan dengan Ellyn meski hanya sebatas sahabat? Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Tak kuasa aku dengan pertanyaan-pertanyaan itu karena hubungan ini sudah terlalu jauh dan selama ini di hatiku hanya ada sebuah ikatan antara dua anak manusia tanpa menyadari bahwa selama ini kami mempunyai tembok pemisah yang amat besar.

Didekat persimpangan jalan di dekat jembatan merah, tepatnya di bawah lentera merah yang sudah menyala sore itu. Ellyn menyuruhku menghentikan kayuhan sepeda ku. Sambil berdiri mengamati sungai kalimas dan para nelayan dengan perahu-perahu kecil. Semuanya tampak sempurna dan ketika itu pula dia memegang tangan ku mengatakan bahwa “Tidak kah Han sadar bahwa selama ini aku menganggap bahwa persahabatan ini lebih hanya sekedar sahabat saja. Aku tahu mungkin perasaan ini terlalu berlebihan, tapi kebersamaan kita selama ini telah mengalahkan perasaan ku selama ini. Bahwa ada perasaan cinta dihatiku. Bukan sebatas sahabat. Sadarkah kau, Han?!”

Sungguh dalam hatiku hampir tidak percaya bahwa seorang Ellyn yang aku kira dia hanya menganggap ku sebatas sebagai seorang sahabat ternyata lebih. Aku pikir selama ini aku saja yang merasakan cinta ini. Ternyata ada nuansa cinta diantara kami.

“Gadis ku Ellyn, tidak kah kau menyadari juga bahwa sejak pertama kali aku bertemu kamu. Ketika aku melihat mu dari depan pagar rumah mu itu. Aku sudah jauh menaruh hati ku padamu. Gadis cantik yang selama ini mengisi kekosongan hari-hari ku. Kamu, Ellyn. Dan aku sepenuhnya sadar bahwa hal itu tidak mungkin terjadi. Sebuah hubungan yang lebih dari sekedar sahabat. Dengan hubungan kita dan aku setiap hari bisa menyaksikan senyum kecil mu itu adalah sebuah anugerah yang sudah cukup bagiku dan aku tidak mau merusak itu. meski aku sadar bahwa perasaan ku padamu lebih dari sekedar sahabat. Tapi cinta” balasku padanya.

Ellyn menambahkan “Lalu kenapa selama ini Han tidak pernah mengatakannya padaku? kenapa Han harus memperhatikan omongan mereka. Ini hanya antara kita. Bukan antara Han, aku, dan Mereka. Hanya kita.” Dibawah lentera itu telah terungkap sebuah kisah kasih diantara kita.

“Jangan lupa, dear Han. Sore hari kita mesti keperayaan imlek, y…. “ teriak Ellyn sebelum aku sempat mengayun sepeda terlalu jauh. Dan aku mencoba membalas pesan itu. Tentu saja aku tak akan pernah lupa bahwa aku akan menemani kekasih ku itu untuk merayakan Imlek yang kedua kalinya di Surabaya.

Entah kenapa hari itu kulihat ibuku sedang menantiku dan ingin bicara dengan ku. Secara lebih dekat. Tanpa kehadiran adik ku dan rupanya dia sudah tidur. 

“Han, duduklah kau disini sejenak. Ibu ingin mengobrol sedikit dengan mu. Tentang kau dan Ellyn. Tidak kah kau berusaha menyudahi hubungan kalian itu. Sadar kah kau selama ini bahwa kita hanya orang biasa dan hanya seorang anak tukang jahit. Dan kita dari suku berbeda. Cuma orang pribumi biasa. Akankah lebih baik kau bilang saja pada Ellyn bahwa kau tidak bisa berteman lagi dengannya. Biarlah ibu yang akan mengantarkan pesanan jahit pada keluarga itu” tegur ibuku pada ku saat itu.

“Kenapa ibu menanyakan hal itu? Apakah salah kami sehingga kami mesti berjauhan. Dan sadarkah ibu bahwa aku telah menaruh hatiku buat Ellyn seorang. Kami lebih dari sekedar sahabat. Begitupun Ellyn. Apakah hanya karena kami berasal dari suku yang berbeda, golongan berbeda maka kami tidak diperbolehkan untuk bergaul. Biarlah orang mengomong seenaknya saja. Ini antara aku dan Ellyn. Bukan tentang kami dengan orang lain. Dan selama ini hubungan kami berjalan secara baik-baik.” Kataku.

Ibuku menambahkan :”Nak tidak kah kau sadar akan dirimu. Ibu hanya mengingkan yang terbaik buat mu dan tau lah kau akan kondisi kita ini. Hanya orang biasa dan janganlah han mencari perkara diluar. Kita hanya orang biasa.”

Aku hanya menganggukkan dan segera kutinggal ibuku dengan perasaan hampa. Aku sadar bahwa ibuku dengan sepenuhnya percaya kepadaku. Sebagai seorang anak lelaki dan mungkin sebagai pengganti almarhum ayahku. Memang ada benarnya kata-kata ibuku. Jurang pemisah antara aku dan Ellyn sangat jauh ditambah lagi dengan statusku sebagai seorang anak penjahit. Tentu semuannya akan membuat hidup ku berubah. Penat rasanya dan segera kutinggalkan saja dalam lelap tidurku.

Hari ini adalah hari yang telah kunanti. Sudah banyak rupanya orang yang telah siap meramaikan suasana perayaan imlek tahun ini. Tiba-tiba aku menabrak seorang pedagang sayur ketika aku hendak menyeberang jalan. Perasaan ku bercampur aduk kala itu. Seakan ada sesuatu yang datang menghampiri. Entah apa itu.

Sore telah tiba dan kini saatnya aku bersiap diri menjemput kekasih ku itu. Tidak seperti biasanya, sore itu Ellyn tak tampak sedang menunggu ku didepan pintu pagar rumahnya seperti biasanya. “Nak, ada titipan surat dari Nona Ellyn” kata salah satu pembantu Ny. Liana. “Kemanakah dia,bi?” kataku. “Tidak kah kau tahu bahwa pagi ini keluarganya telah pindah ke Medan. Kembali ketanah asalnya. Karena ada keperluan mendadak. Entah sampai kapan. Hanya surat ini yang dititipkan Nona Ellyn pada saya.” lanjutnya.

Segera kubuka dan baca surat itu. Isinya dalah bahwa Ellyn sudah tidak bisa lagi tinggal di Surabaya. Kerena pabrik papanya yang di Medan telah mengalami kebakaran dan masih banyak yang mesti perlu diselesaikan. Awalnya Ellyn menolak akan ajakan itu. Demi kekasihnya tercinta. Tapi dia tidak bisa menolak. Ellyn hanya berpesan bahwa:”Tunggulah aku, Han. Disetiap perayaan imlek. Dibawah lentera tempat kita menjalin asmara. Tunggulah aku dengan suratku” pesannya.

Sunggu aku tak kuasa lagi membaca surat itu. Sakit dan pedih rasanya. Namun aku menyadari akan hal itu dengan benar bahwa mungkin kita tidak akan pernah ditakdirkan lagi untuk bertemu. Tapi sepatah pesan terakhir dari Ellyn itu. Bahwa aku harus menunggunya setiap perayaan imlek. Entah itu untuk sebuah surat atau bahkan dirinya. Aku akan tetap menunggu. Dibawah lentera.

Ditahun ke tujuh perayaan imlek itu, Ellyn tak kunjung jua datang dengan suratnya dan tak ada kabar sedikitpun. Hingga pada esok itu. Rupanya ada tamu dirumah sedang mengobrol dengan ibuku dan kupikir mungkin Pak Ismail. Tapi entah siapa itu. Adakah rentenir lain selain Pak Ismail yang datang menagih hutang kepada ibuku, tapi tidak mungkin karena seharusnya aku tahu akan hal itu.

“Pak, Han hari ini kita mendapat pesanan baju khusus kebaya tradisional China dari pelanggan baru dan meminta seminggu lagi untuk diselesaikan. Hari ini juga tepatnya jam satu siang. Pelanggan tersebut akan bertemu dengan bapak untuk memilih kain dan menjelaskan model yang sesuai” kata salah satu pegawai ku. Sekarang Han bukan lagi seorang bocah cilik dan hanya orang biasa. Semenjak kakeknya meninggal di Solo dan menyerahkan warisannya pada putri semata wayangnya yang tidak lain adalah ibuku. Handoko sejak saat itu telah membuat sebuah usaha dibidang pakaian dengan desain khusus dan usahanya tersebut kini telah berkembang pada suatu pabrik yang sudah memiliki cabang dibeberapa didaerah.

Hingga usianya yang ke empat puluh tahun ini, Handoko tetap menunggu Ellyn kekasih sekaligus sahabatnya itu. Meski harapan itu tak kunjung datang jua. Disebuah perayaan festival imlek. Dibawah lentera padam.

P.s: Sekedar cerita dan mencoba untuk menulis meski banyak salah sana sini. Semoga terhibur^^

Sukses, Sekarang juga !!

Read More...

Sabtu, 28 Juli 2012

The CoffeeShop (1) ❤ Puisi Kopi

Nikmatnya kopi

Dari biji kopi Indonesia

Robusta, Arabika, java, Sumatra, Mandheling, Toraja, Bali

Tertuang dalam secangkir Espresso
Hitam, pekat, dan kuat
Dicoba dengan Vietnam Drip ato  French Press
Aromanya semakin mantabs
Begitu pula dengan Cappucino
Manis dan kental dengan brew susu pilihan
Ditambah dengan nikmatnya sebuah Latte
The art of coffee
Tidak lupa mencoba Blend Coffee
Banyak rasa, banyak pilihan
Menambah ramai suasana
Bersama teman dan sahabat
Berbagi canda dan tawa
The Coffeeshop
Hadir untuk menambah suasana persahabatanmu dengan aroma kopi

P.s: Jangan lupa pasang senyum dan foto yah !!
The Coffeeshop Story began . .

The CoffeeShop (1) ❤ Puisi Kopi
Pagi itu Lita segera meluncur ke lokasi yang akan menjadi rumah usaha coffeeshop miliknya. "Ma, aku berangkat dulu yah!!" pamit Lita ke mamanya sambil buru-buru mengambil roti bakar yang sudah disiapkan mamanya dan tak lupa sebuah kecupan buat sang mama.

Karena sudah janji dengan tukang bangunan untuk datang jam delapan pagi. Lita tidak ingin terlambat dan membiarkan tukang bangunan itu menunggu. Kemarin disaat Lita mampir ke kios majalah langganannya, seperti biasa Lite menyempatkan diri untuk duduk sejenak dan menyapa penjual kios yang sudah tua itu. Pak Adi namanya. Empat tahun sejak Alita kuliah selalu membeli majalan di kios pak Adi. Karena itu sudah tidak asing lagi jika Alita begitu akrab dengan Pak Adi. Sampai-sampai setiap Alita baru datang Pak Adi sudah membukakan satu botol Fanta dan segera diberikan ke Alita hingga Alita tidak bisa menolak pemberian itu.

Sambil ngobrol dengan Pak Adi sembari Alita membaca majalah yang lainnya juga. Sehingga bisa memilih majalah mana aja yang akan dibeli.
"Pak, punya kenalan tukang ngga?? Lagi butuh nih?!" tanya Alita kepada Pak Adi.


To Be Continued dehhh... ngantukkkk..tukkk..akuhhhhhhhhhhhhhh .. hehehhehe
Next???
- Susahnya cari pegawai?? (banyak pelamar, adri, interview, pasang iklan)
- Yang datang sili berganti (mlm, penipu, pencuri, marketing)
- Tempat kasmaran (pasang candelight. bukan asbak!!)
- Seperti rumah sendiri
- Barista (the ingredients share)
- Freedom (ngerokok meski cewek)
- Tongkrongan Favorit
- Sahabat mampir
- Penasaran dg alika
- Galau di Coffeeshop (sepi, kadang ada yg rusuh, playboy)
- Finding new life
- Menu Favorit aku
- Hebohnya  dunia online (marketing, promo, fb, twitter)
- Hitam manis di coffeeshop
hemmmmmmmmmmmm whats else????? ting tongggggggg
cemungudddd ^^
i love coffee and it was a fact
Sukses, Sekarang juga !!
Read More...